Sabtu, 24 Oktober 2015

Perilaku Etika dalam Bisnis

BAB 2

Perilaku Etika dalam Bisnis

1.            Lingkungan bisnis yang mempengaruhi Perilaku Etika
Etika bisnis merupakan suatu rangkaian prinsip/aturan/norma yang harus diikuti apabila menjalankan bisnis. Etika sebagai norma dalam suatu kelompok bisnis akan dapat menjadi pengingat anggota bisnis satu dengan lainnya mengenai suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang selalu harus dipatuhi dan dilaksanakan. Etika didalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan bisnis yang terkait tersebut.
Etika bisnis terkait dengan masalah penilaian terhadap kegiatan dan perilaku bisnis yang mengacu pada kebenaran atau kejujuran berusaha (bisnis). Kebenaran disini yang dimaksud adalah etika standar yang secara umum dapat diterima dan diakui prinsip-prinsipnya baik oleh masyarakat, perusahaan dan individu. Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.untuk terciptanya etika didalam bisnis yang sesuai dengan budi pekerti luhur, ada beberapa yang perlu diperhatikan, antara lain :
a)      Pengendalian diri
b)      Pengembangan tenggung jawab sosial
c)      Mempertahankan jati diri
d)     Menciptakan persaingan yang sehat
e)      Menerapkan konsep pembangunan yang berkelanjutan.
Adapun hal-hal yang perlu dihindari agar terciptanya etika didalam bisnis yang baik yaitu menghindari sikap 5K :
a)      Katabelece
b)      Kongkalikong
c)      Koneksi
d)     Kolusi, dan
e)      Komisi

2.            Kesaling t-tergantungan antara bisnis dan masyarakat
Perusahaan yang merupakan suatu lingkungan bisnis juga sebuah organisasi yang memiliki struktur yag cukup jelas dalam pengelolaannya. ada banyak interaksi antar pribadi maupun institusi yang terlibat di dalamnya. Dengan begitu kecenderungan untuk terjadinya konflik dan terbukanya penyelewengan sangat mungkin terjadi. baik di dalam tataran manajemen ataupun personal dalam setiap tim maupun hubungan perusahaan dengan lingkungan sekitar. untuk itu etika ternyata diperlukan sebagai kontrol akan kebijakan, demi kepentingan perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu kewajiban perusahaan adalah mengejar berbagai sasaran jangka panjang yang baik bagi masyarakat. Berikut adalah beberapa hubungan kesaling tergantungan antara bisnis dengan masyarakat.
1)      Hubungan antara bisnis dengan langganan / konsumen
Hubungan antara bisnis dengan langgananya adalah hubungan yang paling banyak dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulanya secara baik. Adapun pergaulannya dengan langganan ini dapat disebut disini misalnya saja :
Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membedakan atau mengadakan perbandingan harga terhadap produknya. Bungkus atau kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi didalamnya, Pemberian servis dan terutama garansi adalah merupakan tindakan yang sangat etis bagi suatu bisnis.
2)      Hubungan dengan karyawan
Manajer yang pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya sering kali harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yakni : Penarikan (recruitment), Latihan (training), Promosi atau kenaikan pangkat, Tranfer, demosi (penurunan pangkat) maupun lay-off atau pemecatan / PHK (pemutusan hubungan kerja).
3)      Hubungan antar bisnis
Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahan yang lain. Hal ini bisa terjadi hubungan antara perusahaan dengan para pesaing, grosir, pengecer, agen tunggal maupun distributor.
4)      Hubungan dengan Investor
Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas dan terutama yang akan atau telah “go publik” harus menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada para insvestor atau calon investornya. prospek perusahan yang go public tersebut. Jangan sampai terjadi adanya manipulasi atau penipuan terhadap informasi terhadap hal ini.
5)      Hubungan dengan Lembaga-Lembaga Keuangan
Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan terutama pajak pada umumnya merupakan hubungan pergaulan yang bersifat finansial.

3.            Kepedulian pelaku bisnis terhadap etika
Pelaku bisnis dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk “uang” dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya. Tanggung jawab sosial bisa dalam bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya, terutama dalam hal pendidikan, kesehatan, pemberian latihan keterampilan, dll. Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah
a)      Pengendalian diri Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain dan menggunakan keuntungan dengan jalan main curang dan menakan pihak lain dan menggunakan keuntungan tersebut walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang “etis”.
b)      Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility). Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk “uang” dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.
c)      Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi Bukan berarti etika bisnis anti perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.
d)     Menciptakan persaingan yang sehat. Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut.
e)       Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan” Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-”ekspoitasi” lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.
f)       Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.
g)       Mampu menyatakan yang benar itu benar  Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan “katabelece” dari “koneksi” serta melakukan “kongkalikong” dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi” serta memberikan “komisi” kepada pihak yang terkait.

4.            Perkembangan dalam etika bisnis
Perkembangan etika bisnis menurut Bertens (2000) :
a)      Situasi Dahulu Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama dalam negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur.
b)      Masa Peralihan: tahun 1960-an ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu dengan menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business and Society. Topik yang paling sering dibahas adalah corporate social responsibility.
c)      Etika Bisnis Lahir di AS: tahun 1970-an sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di AS.
d)     Etika Bisnis Meluas ke Eropa: tahun 1980-an di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian. Terdapat forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis yang disebut European Business Ethics Network (EBEN).
e)      Etika Bisnis menjadi Fenomena Global: tahun 1990-an tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di seluruh dunia. Telah didirikan International Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE) pada 25-28 Juli 1996 di Tokyo.

5.            Etika bisnis dalam akuntan
Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa akuntan publik akan menjadi lebih tinggi, jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik Indonesia. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber dari Prinsip Etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Dalam konggresnya tahun 1973, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk pertama kalinya menetapkan kode etik bagi profesi akuntan Indonesia, kemudian disempurnakan dalam konggres IAI tahun 1981, 1986,1994, dan terakhir tahun 1998. Etika profesional yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dalam kongresnya tahun 1998 diberi nama Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia.
Akuntan publik adalah akuntan yang berpraktik dalam kantor akuntan publik, yang menyediakan berbagai jenis jasa yang diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik, yaitu auditing, atestasi, akuntansi dan review, dan jasa konsultansi. Auditor independen adalah akuntan publik yang melaksanakan penugasan audit atas laporan keuangan historis yang menyediakan jasa audit atas dasar standar auditing yang tercantum dalam Standar Profesional Akuntan Publik. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dijabarkan ke dalam Etika Kompartemen Akuntan Publik untuk mengatur perilaku akuntan yang menjadi anggota IAI yang berpraktik dalam profesi akuntan publik.




Sumber :


















Kasus BAB 2

Kasus pelanggaran yang dilakukan oleh PT Gudang Garam (Tbk)

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat berdasarkan tugas dan kewajiban yang diatur dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran), pengaduan masyarakat, pemantauan dan hasil analisis telah menemukan pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 pada Program Siaran Iklan Niaga rokok “Gudang Garam” yang ditayangkan oleh stasiun TV One pada tanggal 10 Mei 2014 pada pukul 19.43 WIB. Program tersebut menampilkan iklan rokok di bawah pukul 21.30. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap perlindungan kepada anak-anak dan remaja serta larangan dan pembatasan muatan rokok. KPI Pusat memutuskan bahwa tindakan penayangan tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun  2012  Pasal 14 dan Pasal 43 serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 ayat (1), Pasal 58 ayat (1) dan Pasal 59 ayat (1). Menurut catatan KPI Pusat, program ini telah menerima Surat Teguran Tertulis Pertama No.953/K/KPI/05/14 tertanggal 5 Mei 2014. Berdasarkan pelanggaran di atas KPI Pusat memutuskan menjatuhkan sanksi administratif Teguran Tertulis Kedua. Atas pelanggaran ini KPI Pusat akan terus melakukan pemantauan dan meningkatkan sanksi yang lebih berat jika tetap melanggar ketentuan jam tayang iklan rokok. Sesuai dengan PP Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Lembaga Penyiaran Swasta, penayangan iklan rokok disiang hari jelas melanggar pasal 21 ayat (3) Iklan Rokok pada lembaga penyelenggara penyiar radio dan televisi hanya dapat disiarkan pada pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat dimana lembaga penyiaran tersebut berada. Kemudian juga sesuai dengan Etika Pariwara Indonesia menyatakan dalam wahana iklan melalui media televisi, yaitu iklan-iklan  rokok  dan  produk  khusus  dewasa  (intimate  nature) hanya  boleh  disiarkan  mulai  pukul  21.30  hingga  pukul  05.00 waktu setempat.
Solusi untuk kasus pelanggaran etika dalam bisnis khususnya etika periklanan yang dilakukan oleh PT Gudang Garam (Tbk), yakni dipasal 57 menyebut Lembaga Penyiaran Swasta yang menyelenggarakan siaran iklan rokok diluar ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 ayat (3) dikenai sanksi administrasi berupa denda administrasi untuk jasa penyiaran radio paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah), dan untuk jasa penyiaran televisi paling banyak Rp. 1.000.000.000 (satu milyar rupiah).


Kesimpulan

Berdasarkan inti uraian pembahasan, yaitu mengenai kasus pelanggaran etika dalam bisnis khususnya dalam hal etika periklanan yang telah dilakukan oleh PT Gudang Garam (Tbk) terkait tindakan penayangan tersebut yang telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun  2012  Pasal 14 dan Pasal 43 serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 ayat (1), Pasal 58 ayat (1) dan Pasal 59 ayat (1). Sehingga pihak KPI Pusat melayangkan Surat Teguran Tertulis Pertama No.953/K/KPI/05/14 tertanggal 5 Mei 2014. Yang mana apabila pelaku iklan (PT Gudang Garam (Tbk)) tidak mengindahkan atau mengabaikannya maka KPI Pusat akan memutuskan menjatuhkan sanksi administratif Teguran Tertulis Kedua. Atas pelanggaran ini KPI Pusat akan terus melakukan pemantauan dan meningkatkan sanksi yang lebih berat jika tetap melanggar ketentuan jam tayang iklan rokok.




Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

BAB 1

Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

1.            Pengertian Etika
Menurut Kamus Besar Bhs. Indonesia (1995)  Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral. Menurut Maryani & Ludigdo (2001) “Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi”.
Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani ‘ethos’ yang berarti adat istiadat/ kebiasaan yang baik Perkembangan etika yaitu Studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya.
a.       Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia.
b.      Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.
Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma agama, norma moral dan norma sopan santun.
a.       Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan
b.      Norma agama berasal dari agama
c.       Norma moral berasal dari suara batin.
d.      Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika

2.            Prinsip-prinsip Etika
Dalam peradaban sejarah manusia sejak abad keempat sebelum Masehi para pemikir telah mencoba menjabarkan berbagai corak landasan etika sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Para pemikir itu telah mengidentifikasi sedikitnya terdapat ratusan macam ide agung (great ideas). Seluruh gagasan atau ide agung tersebut dapat diringkas menjadi enam prinsip yang merupakan landasan penting etika, yaitu keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran.
a)      Prinsip Keindahan.Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Berdasarkan prinsip ini, manusia memperhatikan nilai-nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam perilakunya. Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang, dan sebagainya sehingga membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja.
b)      Prinsip Persamaan.Setiap manusia pada hakikatnya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, sehingga muncul tuntutan terhadap persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam berbagai bidang lainnya. Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskrminatif atas dasar apapun.
c)      Prinsip Kebaikan. Prinsip ini mendasari perilaku individu untuk selalu berupaya berbuat kebaikan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip ini biasanya berkenaan dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti hormat- menghormati, kasih sayang, membantu orang lain, dan sebagainya. Manusia pada hakikatnya selalu ingin berbuat baik, karena dengan berbuat baik dia akan dapat diterima oleh lingkungannya. Penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sesungguhnya bertujuan untuk menciptakan kebaikan bagi masyarakat.
d)     Prinsip Keadilan. Pengertian keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya mereka peroleh. Oleh karena itu, prinsip ini mendasari seseorang untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain.
e)      Prinsip Kebebasan. Kebebasan dapat diartikan sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak bertindak sesuai dengan pilihannya sendiri. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang lain. Oleh karena itu, setiap kebebasan harus diikuti dengan tanggung jawab sehingga manusia tidak melakukan tindakan yang semena-mena kepada orang lain.
f)       Prinsip Kebenaran. Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat. Tidak setiap kebenaran dapat diterima sebagai suatu kebenaran apabila belum dapat dibuktikan.Semua prinsip yang telah diuraikan itu merupakan prasyarat dasar dalam pengembangan nilai-nilai etika atau kode etik dalam hubungan antarindividu, individu dengan masyarakat, dengan pemerintah, dan sebagainya. Etika yang disusun sebagai aturan hukum yang akan mengatur kehidupan manusia, masyarakat, organisasi, instansi pemerintah, dan pegawai harus benar-benar dapat menjamin terciptanya keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran bagi setiap orang.

3.            Basis Teori Etika
a.       Etika Teleologi
Di dalam etika teleology terdapa dua aliran etika teleologi yang harus dipahami yaitu
a)      Egoisme Etis
Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya. Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadi hedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.
b)      Utilitarianisme
Kata utilitarianisme berasal dari bahasa latin yaitu utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja  satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah “the greatest happiness of the greatest number”, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar.
b.      Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata  Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban. ‘Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai buruk’, deontologi menjawab : ‘karena perbuatan pertama menjadi kewajiban  kita dan karena perbuatan kedua dilarang yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban.Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.
c.       Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi  baik buruknya  suatu perbuatan atau perilaku. Teori Hak merupakan suatu aspek  dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama.Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.
d.      Teori Keutamaan (Virtue)
Memandang  sikap atau akhlak seseorang tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya.Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai berikut : disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah laku baik secara moral.

4.           Egoism
Kata egoisme merupakan istilah yang berasal dari bahasa Latin yakni ego, yang berasal dari kata Yunani kuno yang masih digunakan dalam bahasa Yunani modern yang berarti diri atau saya, dan kata isme, digunakan untuk menunjukkan sistem kepercayaannya.
Egoisme adalah cara untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, dan umumnya memiliki pendapat untuk meningkatkan citra pribadi seseorang dan pentingnya intelektual, fisik, sosial dan lainnya. Egoisme ini tidak memandang kepedulian terhadap orang lain maupun orang banyak pada umumnya dan hanya memikirkan diri sendiri.Inti pandangan dari Egoisme yaitu tindakan dari setiap orang pada dasarnya adalah untuk mengejar kepentingan pirbadi dan memajukan dirinya sendiri. Aristoteles berpenapat bahwa tujuan hidup dan tindakan setiap manusia adalah untuk mengejar kebahagiannya. Egoisme dianggap bermoral dan etis karena kebahagiaan dan kepentingan pribadi dalam bentuk hidup, hak, dan keamanan secara moral dianggap baik dan pantas untuk diupayakan dan dipertahankan.






Sumber :























Kasus BAB 1

Kasus pelanggaran Standar Profesional Akuntan PublikKasus pelanggaran Standar Profesional Akuntan Publik kembali muncul. Menteri Keuangan pun memberi sanksi pembekuan. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawatimembekukan izin Akuntan Publik (AP) Drs. Petrus Mitra Winata dari Kantor Akuntan Publik(KAP) Drs. Mitra Winata dan Rekan selama dua tahun, terhitung sejak 15 Maret 2007.Kepala Biro Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan Samsuar Said dalam siaran persyang diterima Hukumonline, Selasa (27/3), menjelaskan sanksi pembekuan izin diberikankarena akuntan publik tersebut melakukan pelanggaran terhadap Standar Profesional AkuntanPublik (SPAP).Pelanggaran itu berkaitan dengan pelaksanaan audit atas Laporan Keuangan PT MuzatekJaya tahun buku berakhir 31 Desember 2004 yang dilakukan oleh Petrus. Selain itu, Petrus juga telah melakukan pelanggaran atas pembatasan penugasan audit umum denganmelakukan audit umum atas laporan keuangan PT Muzatek Jaya, PT Luhur Artha Kencanadan Apartemen Nuansa Hijau sejak tahun buku 2001 sampai dengan 2004.Selama izinnya dibekukan, Petrus dilarang memberikan jasa atestasi termasuk audit umum,review, audit kinerja dan audit khusus. Yang bersangkutan juga dilarang menjadi pemimpin rekan atau pemimpin cabang KAP, namun dia tetap bertanggungjawab atas jasa-jasa yangtelah diberikan, serta wajib memenuhi ketentuan mengikuti Pendidikan ProfesionalBerkelanjutan (PPL). Pembekuan izin oleh Menkeu tersebut sesuai dengan KeputusanMenkeu Nomor 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik sebagaimana telah diubahdengan Peraturan Menkeu Nomor 359/KMK.06/2003.Analisa :Dalam kasus tersebut, sanksi pembekuan izin diberikan karena akuntan publik tersebutmelakukan pelanggaran terhadap Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Berdasarkanetika profesi akuntansi, auditor tersebut telah melanggar prinsip keempat, yaitu prinsipobjektivitas. Dimana setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturankepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.Pelanggaran itu berkaitan dengan pelaksanaan audit atas Laporan Keuangan PT MuzatekJaya tahun buku berakhir 31 Desember 2004 yang dilakukan oleh Drs. Petrus Mitra Winata.Selain itu, Petrus juga telah melakukan pelanggaran atas pembatasan penugasan audit umumdengan melakukan audit umum atas laporan keuangan PT Muzatek Jaya, PT Luhur ArthaKencana dan Apartemen Nuansa Hijau sejak tahun buku 2001 sampai dengan 2004.Sebagai seorang akuntan publik, Drs. Petrus Mitra Winata seharusnya mematuhi StandarProfesi Akuntan Publik (SPAP) yang berlaku. Ketika memang dia harus melakukan jasaaudit, maka audit yang dilakukan pun harus sesuai dengan Standar Auditing (SA) dalamSPAP.Penelitian terhadap perilaku akuntan telah banyak dilakukan baik di luar negeri maupun diIndonesia. Penelitian ini dipicu dengan semakin banyaknya pelanggaran etika yang terjadi.Dari kondisi tersebut banyak peneliti yang ingin mencari tahu mengenai “faktor–faktor apasaja yang menjadi penentu atau mempengaruhi pengambilan keputusan tidak etis atau pelanggaran terhadap etika.Trevino (1990) menyatakan bahwa terdapat dua pandangan mengenai factor-faktor yangmempengaruhi tindakan tidak etis yang dibuat oleh seorang individu. Pertama, pandanganyang berpendapat bahwa tindakan atau pengambilan keputusan tidak etis lebih dipengaruhioleh karakter moral individu. Kedua, tindakan tidak etis lebih dipengaruhi oleh lingkungan,misalnya sistem reward dan punishment perusahaah, iklim kerja organisasi dan sosialisasikode etik profesi oleh organisasi dimana individu tersebut bekerja.Sementara Volker menyatakan bahwa para akuntan profesional cenderung mengabaikan persoalan etika dan moral bilamana menemukan masalah yang bersifat teknis, artinya bahwa para akuntan profesional cenderung berperilaku tidak bermoral apabila dihadapkan dengansuatu persoalan akuntansi.Selain itu Finn Etal juga menyatakan bahwa akuntan seringkali dihadapkan pada situasiadanya dilema yang menyebabkan dan memungkinkan akuntan tidak dapat independen.Akuntan diminta untuk teta independen dari klien, tetapi pada saat yang sama kebutuhanmereka tergantung kepada klien karena fee yang diterimanya, sehingga seringkali akuntan berada dalam situasi dilematis. Hal ini akan berlanjut jika hasil temuan auditor tidak sesuaidengan harapan klien, sehingga menimbulkan konflik audit. Konflik audit ini akan berkembang menjadi sebuah dilema etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan yang bertentangan dengan independensi dan integritasnya dengan imbalan ekonomis yangmungkin terjadi atau tekanan di sisi lainnya.Situasi dilematis sebagaimana yang digambarkan di atas adalah situasi yang sangat seringdihadapi oleh auditor. Situasi demikianlah yang menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadaetika dan sangat wajarlah apabila ketika para pemakai laporan keuangan seperti investor dan kreditur mulai mempertanyakan kembali eksistensi akuntan sebagai pihak independen yangmenilai kewajaran laporan keuangan.





Selasa, 09 Juni 2015

Learning English

We as humans living on earth from birth, child, growing up, until we die. We are deeply indebted to the earth, the planet we live this beloved. But, how much we had fouled the earth, destroying the earth, and make this earth becomes beautiful again, sometimes we do not realize that our actions are very damaging earth and seem ungrateful on earth that has contributed much to the earth. Therefore, we must begin to change our lives so that our actions are no longer destroy the earth. Surely we are human beings who are not able to do all things.
So, we simply do anything that we can do and do not need to force yourself. If we can only do things that are simple, yes we do the simple things. Do not just because of the simple things that bus we do, we are embarrassed to do so we did not do anything. But we also have to develop themselves in order to do even greater things. Most important is the intention and sincerity.
The little things we can do for example is taking out the trash in its place, to save electricity, save on fuel oil and many more. Maybe we already bored with the words "Throw Trash In The place". We hear those words ever since our childhood to adulthood. But whether we are doing things that we consider this simple? Maybe yes maybe no. Sometimes for large garbage we remember, but if a small trash such as pieces of paper, plastic, or snack packs, we throw begirtu only.
If we're in class, then we put the garbage dikolong table. If there is in the car then placed under a seat. It was not only done by children, but also by adults. That suggests that the most important is self-awareness. Age has no effect on a person's attitude.
The most influential is consciousness. As well as the use of electricity and water. We always assume that more people are using more water than ourselves so we think if we save, it still would not be useful. If everyone thinks that, then there will be no scrimping is not it? We must instill the mind everything a good thing it should start from ourselves. Do not wait for others to do things untuik goodness.
Therefore, it is to safeguard our environment, our beloved earth's environment is, do a small thing because something big was not there before there was a small thing. If the little things done by many people, the little things it would be a great thing. If a thousand people dispose of waste in place and keep clean, then the area will be clean. But if a thousand people for littering, then of course the area will be very dirty at all. So, do not ever underestimate the little things like save electricity, save water, save fuel, or dispose of waste in place. Do from yourself and tularkanlah the people around you. Be a friend of the earth and love the earth.



Eat Junk Food Facts

By Elaine Magee, MPH, RD

Are you a junk-food junkie? Here's what you need to know. It's the 21st century and "junk food" has gone global. For better or for worse (mostly worse), junk food is now available all over the world. We see it most everywhere we go in grocery and convenience stores, fast-food restaurants, on television usually looking very appealing. But just what are the facts about junk food?
"Junk food" generally refers to foods that contribute lots of calories but little nutritional value. Of course, what's considered "junk food" depends on whom you ask. Some might say pizza is junk food, for example. But I personally don't think so, since it contributes real food with nutrients, like cheese and tomato sauce. Add whole-wheat or part whole-wheat crust, plus veggies as a topping, and I'd say pizza completely exits the junk food category.
One problem with junk foods is that they're low in satiation value that is, people don't tend to feel as full when they eat them which can lead to overeating. Another problem is that junk food tends to replace other, more nutritious foods. When people drink lots of soda, for example, they are usually not getting plenty of low-fat dairy or other healthful beverages like green tea or orange juice. When they're snacking on chips and cookies, they're usually not loading up on fruits and vegetables. Most "junk food" falls into the categories of either "snack food" or "fast food."
And then there are things like breakfast cereals. They seem innocent enough, but some of them could definitely be considered "junk food," as they mostly contain sugar or high-fructose corn syrup and white flour or milled corn. Calories From Snack Foods are popular snack foods is usually commercially prepared and packaged, like chips, cheese puffs, candy bars, snack cakes, and cookies. The contribution of snack food to the calories we eat should not be underestimated. Between 1977 and 1996, the contribution of snack calories to total calories for American children between 2 and 5 years old increased by 30%, according to an article published in the Chilean medical journal, Revista Medica de Chile.
Of course, junk food is also readily available at restaurant chains across the country in the form of French fries, chicken nuggets, shakes, soda, etc. Not only are most fast foods not terribly healthy, one study indicates that there may be something about fast food that actually encourages gorging. In the study, from the Children's Hospital in Boston, teens age 13-17 were given three types of fast-food meals (all including chicken nuggets, French fries, and cola). In one meal, the teens were served a lot of food at once. In another, a lot of food was served at the same time, but in smaller portions. And in the third test meal, a lot of food was served, but in smaller portions over 15-minute intervals.
The researchers found that it didn't seem to matter how much food was served the teens still took in about half of their daily calorie needs in that one meal. The researchers suggested that certain factors inherent to fast food might promote overeating:
1.        It's low in fiber.
2.        It's high in palatability (that is, it tastes good).
3.        It offers a high number of calories in a small volume.
4.        It's high in fat.
5.        It's high in sugar in liquid form.
As we all know, many of the food commercials aimed at children are for foods high in fat, sugar, and/or salt, and low in nutritional value. And some research suggests that watching ads for processed foods encourages children to eat more. Researchers from the University of Liverpool in the United Kingdom exposed 60 children, ages 9 to 11, to both food advertisements and toy advertisements, followed by a cartoon and free food. The children ate more after the food advertisements than after the commercials for toys, the study found. The obese children in the study increased their consumption of food the most (134%) after watching the food ads, compared to overweight children (101%) and normal-weight children (84%).
Now that you've got the facts about junk food, how can you try to eat more healthfully in our junk-food-filled world? Here are three tips: Choose fast-food restaurants that offer healthier choices. And no matter where you are, opt for food and beverages that are made up mostly of ingredients that offernutrients along with calories. Enjoy freshly squeezed orange juice or a whole-wheat bagel instead of soda or donuts. Buy a bean burrito, pizza topped with vegetables, or a grilled chicken sandwich on a whole-grain bun instead of tortilla chips with processed cheese sauce; frozen pizza rolls; or fried chicken pieces and French fries. Avoid sweetened beverages.
Look for products low in sugar, high-fructose corn syrup, milled grains, and partially hydrogenated oils. Choose a 100% whole-wheat cracker made with canola oil, for example, or snack on a cheese and fruit plate instead of a bowl of cheese puffs. Limit TV viewing, for yourself and your kids. Certain TV shows seem to attract more junk food commercials more than others, so parents might want to discourage kids from watching these shows. Or try TIVO (where you can fast-forward through commercials) or watch DVDs.
Elaine Magee, MPH, RD, is the "Recipe Doctor" for the WebMD Weight Loss Clinic and the author of numerous books on nutrition and health. Her opinions and conclusions are her own.

How Junk Food Affects Children
by Alissa Fleck, Demand Media
Junk food can be appealing for a variety of reasons, including convenience, price and taste. For children, who do not always understand the health consequences of their eating habits, junk food may appear especially appetizing. However, regularly consuming fattening junk food can be addictive for children and lead to complications like obesity, chronic illness, low self-esteem and even depression, as well as affecting how they perform in school and extracurricular activities. First, according to the Women’s and Children’s Health Network, diet has a significant effect on children’s study habits. Junk food and foods with high sugar content deplete energy levels and the ability to concentrate for extended periods of time.
Energy and focus are especially crucial for school-age children. Children set the foundation for lifelong habits in their youth, making junk food particularly hazardous to their well-rounded development. Physical activity is also essential for children of all ages, and regularly eating junk food does not provide the necessary nutrients children need for sufficient energy to engage in physical activity. A lack of physical activity is harmful to physical and mental well being and may also exclude a child from critical social development. Second, a study published in “Pediatrics” in 2004 found fast-food consumption in children was linked with many dangerous precursors for obesity.
According to this study, kids who ate fast food were more likely to consume a higher amount of calories, fat, carbohydrates and added sugars in one fast food meal. They were also less likely to consume as much fiber, milk and fruits and vegetables as children who did not eat fast food. Children who consumed more fattening foods while eating fast food were also likely, in general, to eat more unhealthy foods at other meals. According to a statement released by the journal “Nature Neuroscience” in 2010, high-calorie food can be addictive, causing children who occasionally eat fast food to learn problematic patterns of eating. These factors were found to place children who regularly ate fast food at increased risk for obesity.
Third, according to the Prevention Institute, experts blame junk food for rising rates of diabetes, high blood pressure and stroke. Increasing rates of chronic illness affect children who regularly consume junk food. The Centers for Disease Control and Prevention predicts if current trends continue, one in three U.S. adults will have diabetes by the year 2050. Diabetes can result in disability and premature death. The Center for Food Safety noted in 2012 that obese children are also more likely to develop high cholesterol and heart disease later in life. According to the Women’s and Children’s Health Network, changes can happen in children’s bodies even when they’re young that are associated with disease at a more advanced age.
Fourth, self-esteem and confidence in oneself are especially important to growing children, and regularly consuming junk food can negatively impact this sense of self. According to “Kids Health Club” magazine, junk food can affect a child’s physical development in detrimental ways, including unhealthy weight gain, which can result in self-esteem problems. Low self-esteem can lead to consequences like depression. Nutritionists at MayoClinic.com also report eating junk food can potentially cause depression on its own. According to the journal “American Family Physician,” depression -- which can be very dangerous for children -- has negative impacts on growth and development, performance in school and social relationships and can ultimately lead to suicide.


Reasons Eating Junk Food Is Not Good
by Tracey Roizman, D.C., Demand Media
Junk food is food that is calorie-dense and nutrient poor. In recent decades, junk food, fast food and convenience food consumption in the United States have increased dramatically, with 25 percent of people now consuming predominantly junk food diets. This trend has occurred concurrently with rising epidemics of numerous chronic diseases and accounts for a long list of reasons why eating junk food is bad. First, junk food plays a major role in the obesity epidemic. By the year 2050, the rate of obesity in the U.S. is expected to reach 42 percent, according to researchers at Harvard University.
Children who eat fast food as a regular part of their diets consume more fat, carbohydrates and processed sugar and less fiber than those who do not eat fast food regularly. Junk food in these children's diets accounts for 187 extra calories per day, leading to 6 additional pounds of weight gain per year. Obesity increases your risk for cardiovascular disease, diabetes and many other chronic health conditions. Second, your insulin levels become elevated when you eat processed sugars, such as those in soft drinks, white flour and other foods devoid of fiber and nutrients necessary to properly metabolize carbohydrates. Eating junk foods throughout the day causes chronically high insulin levels, which eventually prompts your cells to begin to ignore this important hormone, resulting in a condition known as insulin resistance.
Ultimately, obesity and Type 2 diabetes may set in. Since the 1980s, Type 2 diabetes, which was minimal in teenagers, has risen to 15 percent. Third, junk food may lead to depression in teenagers, according to Andrew F. Smith, author of the book "Fast Food and Junk Food: An Encyclopedia of What We Love to Eat." Hormonal changes at puberty make teens more susceptible to mood and behavioral swings. A healthy diet plays a part in keeping hormone levels on an even keel, while a diet high in junk food falls short of these requirements. Consuming trans fats, saturated fats and processed food is associated with up to 58 percent increase in risk of depression.
Fourth, processing that removes vitamins, minerals and fiber makes junk foods into the sources of empty calories that nutritionists disparage. Children who eat a lot of junk foods may develop nutritional deficiencies that lead to low energy, mood swings, sleep disturbance and poor academic achievement, among other health conditions, according to the University of New Hampshire Cooperative Extension. Fifth, High sodium levels are a defining characteristic of many junk foods and one of the contributing factors to the overconsumption of salt that typifies the Western diet and contributes to high blood pressure and heart, liver and kidney diseases, according to Harvard Health Publications. The average American eats five to 10 times more salt than the 2,300 milligrams per day recommended by the U.S. Dietary Guidelines for Americans. Considering the high rates of high blood pressure among Americans, that level should be even lower -- about 1,500 milligrams per day -- for 70 percent of adults. However, the trend since 1988 shows that fewer people with hypertension adhere to a low-sodium diet now than did then.

Reference :